sharegapps.web.id
Sukabumi — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondokkaso Landeuh terus berinovasi dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggunakan udang hasil tangkapan nelayan dan pelaku UMKM pangan dari Kabupaten Sukabumi sebagai sumber protein alternatif dalam menu MBG.
Pemanfaatan udang lokal ini menjadi langkah strategis SPPG Pondokkaso Landeuh dalam mendorong diversifikasi pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber protein yang selama ini identik dengan menu ayam dan telur. “Udang dipilih karena memiliki kandungan protein hewani yang tinggi, kaya asam amino esensial, serta mengandung mineral penting seperti kalsium, fosfor, dan yodium yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak”. Ujar Meisya—Ahli Gizi di SPPG Pondokkaso Landeuh.
Selain aspek gizi, kebijakan ini juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Melalui kerja sama dengan UMKM dan nelayan lokal Sukabumi, SPPG Pondokkaso Landeuh turut memperkuat rantai pasok pangan berbasis lokal dan berkontribusi pada peningkatan pendapatan nelayan serta pelaku usaha kecil di sektor perikanan.
Sahrul Anwar, Kepala SPPG Pondokkaso Landeuh menyampaikan bahwa pemanfaatan udang lokal sejalan dengan semangat Program MBG yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi, tetapi juga pada penguatan ekonomi kerakyatan. Dengan menyerap produk UMKM dan hasil tangkapan nelayan di Ujunggenteng Kabupaten Sukabumi, program ini diharapkan mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.
“Diversifikasi menu protein memungkinkan program gizi menjawab dua tujuan sekaligus, yakni peningkatan kualitas asupan anak dan penguatan ekonomi lokal. Udang Hasil Para Nelayan di Pesisi Pantai Sukabumi menjadi contoh komoditas yang memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus mendukung keberlanjutan mata pencaharian nelayan,” demikian disampaikan Sahrul Anwar.
Dalam implementasinya, pengadaan bahan pangan udang dilakukan dengan memperhatikan standar keamanan pangan, kebersihan, dan sanitasi sesuai prosedur operasional SPPG. Proses pengolahan juga disesuaikan dengan kebutuhan gizi sasaran MBG, sehingga kandungan nutrisi tetap terjaga dan aman dikonsumsi.
Langkah SPPG Pondokkaso Landeuh ini diharapkan dapat menjadi contoh praktik yang baik (best practice) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, khususnya dalam mengintegrasikan aspek gizi, diversifikasi pangan, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Selanjutnya, SPPG Pondokkaso Landeuh berkomitmen untuk terus mengembangkan menu berbasis pangan lokal lainnya guna mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
(Yugo)



