sharegapps.web.id
Tatkala waktu mulai memasuki bulan Sya’ban, hati seorang mukmin biasanya ikut bergetar. Ada rasa rindu yang tumbuh perlahan rindu akan tamu agung bernama Ramadan.
Sya’ban seakan menjadi jembatan batin: belum Ramadan, tetapi sudah mulai terasa harumnya.
-Bulan Sholawat
Sya’ban adalah bulan yang mulia. Bahkan Rasulullah saw. sendiri menegaskan keistimewaannya dengan sabda beliau: “Sya’ban adalah bulanku.” Karena itulah, para ulama menaruh perhatian khusus pada bulan ini.
Syaikh ‘Abd al-Ḥamīd bin Muḥammad ‘Alī Qudus dalam kitab Kanz an-Najāḥ wa as-Surūr menjelaskan bahwa Sya’ban adalah bulan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Mengutip dari Tuḥfah al-Ikhwān, beliau menekankan pentingnya memperbanyak sholawat, terlebih di bulan Sya’ban yang memiliki hubungan khusus dengan Rasulullah SAW.
Jika Ramadan adalah bulan Al-Qur’an, maka Sya’ban adalah bulan mempererat cinta kepada Nabi.
(Abd al-Ḥamīd bin Muḥammad ‘Alī bin ‘Abd al-Qādir, Kanz al-Najāḥ wa al-Surūr (Maktabah al-Kamāl), hlm. 57)
-Mengapa Dinamakan Sya’ban?
Para ulama menjelaskan asal-usul penamaan bulan Sya’ban dengan beberapa pendekatan. Menurut Ibnu Katsir, kata Sya’ban berasal dari tasha’ ‘uba al-qabā’il, yaitu terpecah dan menyebarnya kabilah-kabilah Arab untuk berbagai urusan, termasuk ekspedisi dan penyerbuan.(Abū al-Fidā’ Ismā‘īl bin ‘Umar bin Katsīr al-Qurasyī al-Baṣrī ṡumma ad-Dimasyqī, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tahqīq: Sāmī bin Muḥammad Salāmah, cet. II (Riyadh: Dār Ṭayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzī‘, 1420 H/1999 M), jil. 4, hlm. 147.)
Namun, Sayyid Muḥammad ‘Alawī al-Mālikī memberi penjelasan yang lebih bernuansa spiritual. Beliau menyatakan:
وَسُمِّيَ شَعْبَانُ لِأَنَّهُ يَتَشَعَّبُ مِنْهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ
“Dinamakan Sya’bān karena darinya bercabang (mengalir) banyak kebaikan.” (Sayyid Muḥammad bin ‘Alwī bin ‘Abbās al-Mālikī, Mā Dhā fī Sya‘bān, cet. I, hlm. 5.)
Artinya, Sya’ban bukan sekadar bulan persiapan, tetapi bulan yang sarat dengan limpahan rahmat dan peluang kebaikan.
-Hikmah Pembagian buku catatan amal di bulan Sya’ban
Salah satu peristiwa penting di bulan ini terjadi pada malam Nisfu Sya’ban. Banyak ulama menerangkan bahwa pada malam tersebut terjadi penetapan dan pencatatan takdir manusia untuk satu tahun ke depan.
رُوِيَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ :إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ نَسَخَ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلَّ مَنْ يَمُوتُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَظْلِمُ وَيَفْجُرُ وَيَنْكِحُ النِّسْوَانَ وَيَغْرِسُ الْأَشْجَارَ وَقَدْ نُسِخَ اسْمُهُ مِنَ الْأَحْيَاءِ إِلَى الْأَمْوَاتِ وَمَا مِنْ لَيْلَةٍ بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ. اهـ
“Diriwayatkan dari ‘Athā’ bin Yasār ra., bahwa apabila tiba malam pertengahan bulan Sya’ban, Malaikat Maut mencatat siapa saja yang akan wafat dari Sya’ban tahun itu hingga Sya’ban berikutnya.
Bahkan, bisa jadi seseorang masih sibuk dengan urusan dunia berbuat zalim, bermaksiat, menikah, atau menanam pohonpadahal namanya telah dipindahkan dari daftar orang yang hidup ke daftar orang yang akan meninggal.
Dan tidak ada satu malam pun setelah Lailatul Qadar yang lebih utama daripada malam pertengahan bulan Sya’bān.”
Syaikh ‘Abd al-Ḥamīd bin Muḥammad ‘Alī Quds
menjelaskan bahwa hikmah dikhususkannya malam Nisfu Sya’ban dengan pencatatan ini adalah sebagai dorongan (targhīb) dan peringatan (tarhīb).
Sebelum malam itu tiba, seorang mukmin terdorong untuk memperbanyak kebaikan dan menjauhi keburukan.
Saat malam itu datang, ia bersungguh-sungguh mengisinya dengan ibadah, berharap Allah menetapkan kebahagiaan hidup dan akhiratnya.
Setelah malam itu berlalu pun, ia tetapwaspada dan rendah hati takut jika namanya termasuk dalam daftar orang yang akan wafat pada tahun tersebut sehingga ia mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah SWT.
(Abd al-Ḥamīd bin Muḥammad ‘Alī bin ‘Abd al-Qādir, Kanz al-Najāḥ wa al-Surūr (Maktabah al-Kamāl), hlm. 57-58).
Karena keutamaannya, para ulama menganjurkan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah. Hal ini diperkuat oleh sebuah hadis:
مَنْ أَحْيَا اللَّيَالِيَ الْخَمْسَ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ: لَيْلَةَ التَّرْوِيَةِ وَلَيْلَةَ عَرَفَةَ وَلَيْلَةَ النَّحْرِ وَلَيْلَةَ الْفِطْرِ وَلَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ.
“Barang siapa menghidupkan lima malam, maka wajib baginya surga, yaitu: Malam Tarwiyah, malam ‘Arafah, malam Nahr (Idul Adha), malam Idul Fitri, dan malam pertengahan bulan Sya’bān.”
Atas dasar itulah, Syaikh ‘Abd al-Ḥamīd bin Muḥammad ‘Alī Quds menjelaskan amalan-amalan khusus pada malam Nisfu Sya’ban yang hingga kini masih diamalkan oleh kaum muslimin di Indonesia.
Beliau menjelaskan bahwa telah dihimpun doa yang bersumber dari riwayat (ma’tsur) dan sesuai dengan keadaan, khusus untuk malam Nisfu Sya’ban. Doa ini dibaca oleh kaum muslimin, baik sendiri-sendiri maupun berjamaah, di masjid atau di tempat lainnya.
Adapun tatacaranya adalah sebagai berikut:
وَكَيْفِيَّتُهُ: تُقْرَأُ أَوَّلًا قَبْلَ ذَلِكَ الدُّعَاءِ بَعْدَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ سُورَةُ يٰسٓ «ثَلَاثًا» الْأُولَى: بِنِيَّةِ طُولِ الْعُمُرِ وَالثَّانِيَةُ: بِنِيَّةِ دَفْعِ الْبَلَاءِ وَالثَّالِثَةُ: بِنِيَّةِ الِاسْتِغْنَاءِ عَنْ النَّاسِ.
“Tata caranya: dibaca terlebih dahulu sebelum doa
tersebut, setelah salat Magrib, surat Yāsīn sebanyak tiga kali.
• Bacaan pertama dengan niat panjang umur,
• Bacaan kedua dengan niat menolak bala,
• Bacaan ketiga dengan niat mencukupkan diri dari ketergantungan kepada manusia.”
Setiap selesai membaca surat Yasin, maka berdoa sebagaimana berikut:
بسم اللَّهُ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيمُ
وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْهِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِئِينَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيرِينَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِينَ.
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مَطْرُودًا أَوْ مُقَتَّرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ ـ اللَّهُمَّ ـ بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَطَرْدِي وَتَقْتِيرَ رِزْقِي، وَأَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيدًا مَرْزُوقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ. فَإِنَّكَ قُلْتَ ـ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ ـ فِي كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ: ﴿يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ، وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ﴾
إِلٰهِي بِالتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ وَيُبْرَمُ أَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا نَعْلَمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا. بِهِ أَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ) . اهـ.
(Redaksi)
sumber: FB Pondok Lirboyo


