Kisah Inspiratif Umi Waheeda, Beri Makan, Tempat Tinggal dan Pendidikan Gratis 1.500 Santri

Advertisement

Kisah Inspiratif Umi Waheeda, Beri Makan, Tempat Tinggal dan Pendidikan Gratis 1.500 Santri

SHAREGAPPS.WEB.ID
Kamis, 05 Februari 2026

sharegapps.web.id

Di saat banyak orang sibuk berebut meja untuk meminta anggaran, ada seorang wanita yang memilih membangun kursinya sendiri. Namanya Umi Waheeda. Beliau tidak datang ke kementerian dengan map tebal berisi proposal, dan tidak pula pandai mengiba demi bantuan. Beliau justru melakukan sesuatu yang membuat banyak pihak merasa malu: beliau tidak meminta apa-apa.


Bayangkan sebuah kota kecil bernama Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman. Di sana, ada 15.000 anak yang makan tiga kali sehari, tidur di asrama yang layak, dan sekolah hingga perguruan tinggi tanpa pernah ditagih biaya sepeser pun. Gratis total.


Rahasianya bukan pada donatur asing atau subsidi besar, melainkan pada sebuah "mesin ekonomi" yang dibangun dengan keringat sendiri. Umi tidak bicara soal pemberdayaan; beliau menjalankannya. Beliau tidak berteori soal ketahanan pangan; beliau menanam ratusan hektar sawah.


Di bawah asuhannya, pesantren ini menjelma menjadi raksasa mandiri dengan 59 unit usaha. Ada pabrik roti, tahu, susu kedelai, hingga percetakan. Semua dikelola sendiri, dan hasilnya diputar kembali untuk menghidupi ribuan mimpi santrinya. Umi berpikir tentang produksi, di saat yang lain masih sibuk berpikir tentang anggaran.


Satu hal yang paling menggetarkan hati adalah keberaniannya menjaga martabat. Pada tahun 2008, ketika praktik pungli mencoba menyusup ke dunianya, Umi tidak memilih jalur aman. Beliau tidak takut izinnya dipersulit atau administrasinya diputar-putar.


Beliau justru memimpin belasan ribu santrinya berdiri tegak untuk menolak praktik kotor tersebut. Kenapa beliau seberani itu? Karena beliau mandiri. Ketika hidup kita tidak bergantung pada sistem yang rusak, suara kita akan terdengar jauh lebih lantang. Umi mengajarkan satu hal penting: Kemandirian ekonomi bukan cuma soal uang, tapi soal keberanian untuk tidak bisa dipalak.


Lahir di Singapura dengan pendidikan kelas dunia, Umi Waheeda membawa disiplin sistem Barat ke dalam jiwa pesantren. Beliau adalah doktor komunikasi yang sangat akademik, namun juga seorang ibu yang tegas mengurus ekosistem ekonomi pesantren.


Setelah wafatnya sang suami, Habib Saggaf, beliau memikul amanah yang beratnya bukan main: menjaga pesantren tetap gratis sampai kiamat. Sebagai perempuan di lingkungan yang cenderung maskulin, beliau membuktikan bahwa martabat pemimpin diukur dari kinerja, bukan sekadar kata-kata.


Kisah Umi Waheeda adalah pengingat bagi kita semua yang sering beralasan, "Ya mau gimana lagi, sistemnya memang begini." Umi menunjukkan bahwa selalu ada opsi untuk membuat jalur sendiri. Memang capek, memang berdarah-darah, tapi setidaknya kita tidak kehilangan harga diri.


Di saat dunia sibuk mencari sisa-sisa anggaran, Umi Waheeda berdiri tegak dan berkata melalui karyanya: "Anak-anak saya tidak akan tumbuh dari belas kasihan, tapi dari kehormatan."

(Red)

sumber: Facebook bidadari surgamu fans