sharegapps.web.id - SUKABUMI
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi peningkatan nutrisi siswa sekolah dasar, kini justru meninggalkan tanda tanya besar di Kabupaten Sukabumi. Sebanyak 252 siswa di SDN Ciherang, Desa Gunung Malang, Kecamatan Cikidang, dilaporkan tidak lagi menerima manfaat program tersebut selama lima bulan terakhir.
Terhentinya penyaluran bantuan pangan ini memicu kekecewaan, baik dari pihak sekolah maupun orang tua siswa sebagai penerima manfaat. Pasalnya, program yang awalnya berjalan lancar ini mendadak terhenti tanpa solusi yang jelas.
Alasan "Over Kuota" yang Janggal
Pihak sekolah mengaku telah berupaya mencari kejelasan kepada pihak Komite Satuan Pelayanan Pangan Indonesia (KSPPI). Namun, jawaban yang diterima justru menimbulkan spekulasi dan kebingungan.
Pihak KSPPI berdalih bahwa penghentian penyaluran di SDN Ciherang disebabkan oleh kondisi "Over Kuota" atau kelebihan muatan penerima.
"Kami mempertanyakan kenapa alasannya over kuota. Jika memang sejak awal sudah terdata, seharusnya distribusi tetap berjalan sesuai jumlah siswa yang ada. Lima bulan bukan waktu yang sebentar bagi anak-anak kami kehilangan hak nutrisinya," ujar salah satu perwakilan pihak sekolah yang enggan disebutkan namanya.
Dampak Bagi Siswa
Sejak program ini terhenti, para siswa kembali mengandalkan bekal seadanya atau jajan di kantin sekolah. Padahal, program MBG diharapkan mampu meringankan beban ekonomi orang tua sekaligus menjamin standar gizi anak di sekolah.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Desa Gunung Malang berharap ada evaluasi menyeluruh dari pemerintah daerah maupun pusat terkait kinerja KSPPI di wilayah Cikidang.
Pihak sekolah dan orang tua murid menuntut tiga poin utama:
● Transparansi data terkait alasan sebenarnya penghentian program.
● Audit distribusi pangan untuk memastikan tidak ada pengalihan kuota ke wilayah lain.
● Kepastian jadwal kapan bantuan makan bergizi akan kembali disalurkan.
Persoalan ini menjadi rapor merah bagi implementasi program penguatan gizi di tingkat akar rumput, khususnya di wilayah pelosok Kabupaten Sukabumi yang sangat membutuhkan perhatian pemerintah.



