Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026, menghadirkan profil para ulama yang menjadi bagian dari Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA). Para tokoh tersebut merepresentasikan keluasan tradisi keilmuan, pesantren, pengalaman organisasi, serta pengabdian kepada umat dan bangsa.
KH. Nurul Huda Jazuli
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Beliau dikenal teguh mempertahankan pola pendidikan salaf di tengah arus modernisasi. Istiqamah mengajarkan kitab-kitab klasik dan menjaga tradisi musyawarah para masyayikh sebagai ruh kepemimpinan pesantren. Dalam lingkungan NU, beliau menjadi salah satu sosok sepuh tempat para kiai bermusyawarah dalam berbagai keputusan strategis, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren sebagai fondasi NU.
KH. Kafabihi Makhrus
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Berasal dari keluarga besar ulama Lirboyo, beliau tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan ilmu, adab, dan khidmah sebagai landasan kehidupan. Di bawah kepemimpinannya, Lirboyo terus mempertahankan tradisi pendidikan Islam klasik dan pengkajian kitab turats. Beliau juga aktif dalam Syuriyah NU dan forum bahtsul masail, serta dikenal memadukan kedalaman ilmu fikih dengan ketelitian dalam mengambil keputusan keagamaan.
KH. Ahmad Mustofa Bisri
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang. Gus Mus merupakan ulama yang mampu menjembatani dunia pesantren dengan sastra, seni, dan kehidupan kebangsaan. Latar pendidikan pesantrennya yang kuat, ditambah pengalaman belajar di Al-Azhar Kairo, membentuk keluasan wawasan keislamannya. Beliau dikenal konsisten menyuarakan Islam yang ramah, moderat, menjunjung kemanusiaan dan persaudaraan. Gaya dakwahnya yang lembut, humoris, serta penuh refleksi menjadikannya figur yang dihormati lintas kalangan.
KH. Ubaidillah Shodaqoh
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, Semarang, sekaligus ulama yang memiliki pengalaman panjang dalam struktur Syuriyah NU Jawa Tengah. Beliau ditempa dalam tradisi salaf sekaligus memiliki latar pendidikan hukum, sehingga mampu memadukan wawasan keagamaan dan kebangsaan. Beliau dikenal sebagai salah satu rujukan dalam persoalan fikih dan kebijakan organisasi serta menekankan pentingnya tiga ukhuwah: ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.
KH. Said Aqil Siradj
Pengasuh Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, dan salah satu intelektual Muslim yang berpengaruh dalam perjalanan NU modern. Pendidikan pesantren dan pengalaman akademiknya di Arab Saudi membentuk perspektif keislaman yang luas, namun tetap berpijak pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Beliau pernah memimpin PBNU selama dua periode dan dikenal aktif memperkenalkan gagasan Islam Nusantara sebagai wajah Islam yang damai, toleran, dan menghargai budaya lokal.
KH. Ma’ruf Amin
Ulama senior NU yang memiliki perhatian besar terhadap fikih, pendidikan Islam, serta penguatan peran ulama dalam kehidupan berbangsa. Dalam perjalanan pengabdiannya, beliau pernah mengemban amanah sebagai Rais ‘Aam PBNU, Ketua Umum MUI, anggota Dewan Pertimbangan Presiden, hingga Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019–2024. Sosoknya menggambarkan hubungan erat antara tradisi pesantren, kepemimpinan keulamaan, dan kebijakan publik nasional.
Syekh KH. Ali Akbar Marbun
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar, Medan. Berasal dari Sumatera Utara, beliau menempuh pendidikan pesantren dan kemudian memperdalam ilmu di Tanah Suci, antara lain kepada Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Sepulang dari Makkah, beliau mendirikan Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar yang berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam berpengaruh di Sumatera Utara. Beliau pernah dipercaya menjadi anggota AHWA pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang tahun 2015.
Tgk. KH. Nurruzahri — Walid NU
Pengasuh Pondok Pesantren Dayah Ummul Ayman Samalanga, Aceh. Beliau merupakan ulama kharismatik yang berperan dalam memperkuat kehadiran NU di Aceh. Berangkat dari tradisi dayah, beliau dikenal menguasai khazanah kitab kuning sekaligus memahami karakter sosial dan budaya masyarakat Aceh. Kepemimpinannya menekankan musyawarah, kesejukan, serta penghindaran polarisasi. Kehadirannya dalam jajaran AHWA juga merepresentasikan keterlibatan ulama Aceh dalam kepemimpinan NU di tingkat nasional.
KH. Ali Kholil
Pengasuh Pondok Pesantren Syaichona Cholil, Balikpapan. Sebagai cicit Syaikhona Kholil Bangkalan, beliau mewarisi sanad keilmuan dan tradisi pesantren yang kuat. Kepemimpinannya mengembangkan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam dan kaderisasi ulama di Kalimantan. Beliau juga dikenal menggagas kemandirian ekonomi umat melalui Kontak Santri Agribisnis Indonesia (Konsain), yang diarahkan untuk membangun sumber pendanaan mandiri bagi pesantren, madrasah, masjid, dan lembaga sosial Islam.
Makna Kehadiran AHWA
Kesembilan profil tersebut memperlihatkan wajah ulama NU yang berakar kuat pada tradisi pesantren, tetapi memiliki cakupan pengabdian yang luas: pendidikan, fikih, dakwah, organisasi, kebangsaan, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan jaringan pesantren di berbagai wilayah Nusantara.
Keberagaman latar belakang tersebut sekaligus menunjukkan keluasan representasi ulama dalam tradisi Nahdlatul Ulama—dari Jawa, Sumatera, Aceh, hingga Kalimantan. Masing-masing membawa sanad keilmuan, pengalaman khidmah, serta karakter kepemimpinan yang berbeda, namun bertemu pada satu fondasi: menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, merawat persatuan, menguatkan umat, dan mengabdikan ilmu bagi kemaslahatan bangsa.
Dengan demikian, profil AHWA Muktamar Ke-35 NU bukan sekadar daftar nama para ulama, melainkan gambaran tentang kesinambungan sanad keilmuan dan kepemimpinan Nahdlatul Ulama dari pesantren menuju kehidupan umat dan kebangsaan.
(Redaksi)


