NU Online / Media Online – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi kembali menggelar kegiatan pengajian rutin bulanan atau Syahriahan. Acara yang menjadi salah satu program kerja unggulan hasil Rapat Kerja MWC NU tersebut berlangsung khidmat pada Sabtu pagi (25/7/2026 M / 10 Safar 1448 H) bertempat di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Kp. Bojong Tengah RT 02/03, Desa Langensari, Kecamatan Parungkuda.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus MWC NU Parungkuda, pengurus Ranting NU se-Kecamatan Parungkuda, para ustadz, pimpinan pesantren, serta warga Nahdliyin setempat. Pengajian Syahriahan kali ini mengkaji dua kitab keislaman utama, yaitu Kitab Al-Risalah Ahlusunnah Waljama'ah dan Kitab Fiqih Fathul Mu'in, yang dibawakan langsung oleh dua ulama terkemuka MWC NU Parungkuda.
Pentingnya Selektif dan Berhati-hati dalam Mengambil Ilmu Agama
Pada sesi pertama, Ketua Syuriah MWC NU Parungkuda sekaligus Pimpinan Ponpes Al-Rihlah, KH. Choerudin Alby, memaparkan kajian dari Kitab Al-Risalah Ahlusunnah Waljama'ah. Beliau menegaskan pentingnya sikap kehati-hatian (ihtiyath) dalam menuntut ilmu agama di tengah derasnya arus informasi dan munculnya berbagai pemahaman yang berpotensi menyesatkan masyarakat.
"Ilmu agama adalah tuntunan hidup dunia dan akhirat. Oleh karena itu, kita wajib berhati-hati dan menyaring dari mana ilmu tersebut kita ambil. Mengambil ilmu haruslah dari ahlinya (ahlul 'ilmi) yang memiliki sanad keguruan yang jelas, sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW," tegas KH. Choerudin.
Beliau juga mengingatkan jamaah akan bahaya fitnah dari para ahli bid'ah, orang-orang munafik, serta penceramah atau pemimpin yang tidak memiliki basis keilmuan yang valid sehingga berpotensi menyesatkan umat.
Mengutip riwayat dari Ibnu 'Asakir mengenai perkataan Imam Malik radiallahu 'anhu, KH. Choerudin membacakan nasihat penting:
"Janganlah mengambil ilmu dari ahli bid'ah, jangan pula mengambilnya dari orang yang tidak dikenal kredibilitasnya dalam menuntut ilmu, dan jangan pula dari orang yang suka berdusta dalam pembicaraan sehari-harinya dengan manusia, meskipun dia tidak berdusta atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
Melalui pesan ini, jamaah diimbau untuk selalu bertabayyun dan menimba ilmu kepada para kiai, alim ulama, serta pesantren yang konsisten membela ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah.
Mengupas Sunnah-Sunnah Wudhu dan Keutamaan Bersiwak
Sesi kedua dilanjutkan oleh Mustasyar MWC NU Parungkuda sekaligus Pimpinan Ponpes Darul Hikmah, KH. Yunus Hanafi, yang mengulas secara detail fiqih bersuci dalam Kitab Fathul Mu'in, khususnya mengenai sunnah-sunnah wudhu.
Dalam ceramahnya, KH. Yunus Hanafi menekankan dua poin utama penyempurna ibadah wudhu:
1. Mencuci Kedua Telapak Tangan (Al-Ku'ain):
◦ Batasan Pembasuhan: Disunnahkan membasuh kedua telapak tangan secara bersamaan hingga batas pergelangan tangan (al-ku'ain).
◦ Amalan Penyerta: Pembasuhan ini disunnahkan diawali dengan membaca basmalah (tasmiah) yang dilafalkan bersamaan dengan niat sunnah wudhu dalam hati.
2. Kesunnahahan Bersiwak (Menggosok Gigi): KH. Yunus Hanafi memaparkan aturan dan keutamaan bersiwak secara terperinci guna menjaga kebersihan fisik dan spiritual umat:
◦ Cara Bersiwak: Untuk bagian gigi, siwak digosokkan secara melintang ('ardhan), baik pada permukaan luar maupun dalam. Sedangkan untuk lidah, siwak digosokkan secara membujur atau memanjang (thulan).
◦ Dasar Hukum: Bersumber dari hadits shahih Rasulullah SAW: "Jika tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali wudhu."
◦ Alat Siwak: Sah menggunakan benda apapun yang permukaannya kasar dan bersih, namun menggunakan batang kayu arak (al-arak) adalah yang paling utama.
◦ Kondisi Sangat Dianjurkan (Mu'akkad):
▪ Kondisi Fisik: Tetap disunnahkan secara kuat meskipun bagi lansia atau orang yang sudah tidak memiliki gigi.
▪ Ibadah: Setiap kali hendak berwudhu dan mendirikan shalat (baik shalat fardhu maupun sunnah, termasuk setiap dua rakaat pada shalat malam/tarawih).
▪ Aktivitas Mulia: Ketika hendak membaca Al-Qur'an, membaca atau mempelajari hadits, serta saat menuntut ilmu agama.
▪ Perubahan Bau Mulut: Ketika aroma atau warna mulut berubah, seperti sesudah bangun tidur atau setelah mengonsumsi makanan yang berbau menyengat.
Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Peradaban
Acara pengajian bulanan ini ditutup dengan doa bersama serta penyeruan yel-yel kebangsaan dan ke-NU-an secara kompak oleh seluruh peserta pengajian: "Siapa Kita? NU! NKRI? Harga Mati! Pancasila? Jaya! NU Parungkuda? Berkah, Berkah, Berkah!"
Melalui kegiatan rutinitas Syahriahan ini, MWC NU Kecamatan Parungkuda berharap tradisi keilmuan Islam kebangsaan terus lestari di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat tali silaturahmi antar pengurus serta warga Nahdliyin di wilayah Parungkuda dan sekitarnya, sesuai dengan motto pendorong: "Merawat Jagat, Membangun Peradaban."
(Yugo)





