sharegapps.web.id - Sukabumi
Di tengah derasnya arus informasi tentang berbagai kasus korupsi yang terus bermunculan, kegelisahan datang dari suara seorang pemuda yang mewakili keresahan banyak rakyat Indonesia.
Ketua Karang Taruna Desa Bojonglongok Kecamatan Parakansalak Kabupaten Sukabumi (Indra), menyampaikan pandangannya dengan nada yang tidak biasa—bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan kesedihan yang dalam. Baginya, korupsi di Indonesia hari ini telah melampaui batas sebagai sekadar pelanggaran hukum. Ia menyebutnya sebagai sebuah bencana besar yang perlahan menggerogoti masa depan bangsa.
“Kalau saya bicara soal ini terlalu dalam, rasanya ingin menangis,” ungkapnya lirih.
Ia menilai, dampak korupsi tidak hanya terlihat pada angka kerugian negara, tetapi terasa langsung dalam kehidupan masyarakat. Dari pendidikan yang tidak merata, fasilitas kesehatan yang terbatas, hingga pembangunan yang tersendat—semuanya menjadi bukti nyata bahwa ada yang tidak beres dalam pengelolaan amanah publik.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa bahaya terbesar dari korupsi bukan hanya pada tindakan itu sendiri, melainkan ketika praktik tersebut mulai dianggap hal yang biasa. Ketika kejujuran tidak lagi menjadi nilai utama, dan generasi muda mulai kehilangan arah dalam menentukan benar dan salah.
Dalam pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk tidak tinggal diam. Menurutnya, perubahan tidak harus menunggu dari pusat kekuasaan, tetapi bisa dimulai dari kesadaran individu untuk menjaga integritas dalam kehidupan sehari-hari.
“Indonesia masih punya harapan,” tegasnya.
Suara seperti ini menjadi pengingat bahwa di tengah kompleksitas persoalan bangsa, masih ada harapan yang hidup dari mereka yang peduli. Bahwa di balik rasa sedih yang mendalam, tersimpan tekad untuk tidak menyerah pada keadaan.
(Redaksi)


